Selamat Datang.........

Semoga Bermanfaat..... Dunia Akhirat.... ^_^

Sabtu, 28 Agustus 2010

PANILAIAN PAP DAN PAN, VALIDITAS, DAN MENGHITUNG VALIDITAS

PANILAIAN PAP DAN PAN

Pengolahan nilai-nilai dapat dilakukan dengan mengacu kepada criteria atau patokan tertentu. Dalam hal ini dikenal dengan adanya dua patokan yang umum dipakai. Yaitu penilaian acuan patokan (criterion referenced evaluation) dan penilaian acuan norma (norm referenced evaluation).

1. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
suatu penilaian disebut PAP jika dalam melakukan penilaian itu kita mengacu kepada suatu criteria pencapaian tujuan (instruksional) yang telah dirumuskan sebelumnya. Nilai-nilai yang diperoleh siswa dihubungkan dengan tingkat pencapaian penguasaan (mastery) siswa tentang materi pengajaran sesuai dengan tujuan (instruksional) yang telah ditetapkan.
Sebagai contoh misalkan untuk dapat diterima sebagai calon penerbana disebuah lembaga penerbangan, setiap calon harus memenuhi syarat antara alain tinggi badan sekurang-kurangnaya 165 cm dan memeiliki tingkat kecerdasan (IQ) serendah-rendahnya 130 berdasarkan hasil tes yang diadakan oleh lembaga yang bersangkutan. Berdasarkan criteria atau patokan itu, siapapun calon yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut dinyatakan gagal dalam tes atau tidak akan diterima sebagai siswa calon penerbang.

2. Penilaian Acuan Norma (PAN)
secara singkat dapat dirumuskan bahwa penilaian acuan norma (PAN) adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok. Nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang termasuk didalam kelompok itu.
Yang dimaksud dengan norma dalam hal ini adalah kapasitas atau prestasi kelompok, sedangkan yang dimaksud dengan kelompok semua siswa yang melakukan tes tersebut. Jadi pengertian kelompok yang dimaksud dapat berarti sejumlah siswa dalam suatu kelas., sekolah, rayon, propinsi atau wilayah.
Sebuah contoh kongkrit dapat dikemukakan cara penilaian yang pernah dilakukan untuk menentukan kelulusan seorang siswa dalam ebtanas, dari hasil ebtanas itu dikenal dengan adanya nilai ebtanas murni(NEM), yang berasal dari hasil panitia ujian dengan menggunakan patokan persentase, yang menunjukkan tingkat kemampuan atau penguasaan siswa tentang materi pengajaan yang diujikan.. dengan akata lain NEM merupakan hasil penilaian dengan cara PAP.

3. Persamaan Dan Perbedaan Penilaian Acuan Patokan Dan Acuan Normatif
penilaian acuan patokan dan acuan normatif mempunayai beberapa persamaan sebagai gerikut:
1. penilaian acuan normatif dan acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan focus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusu.
2. kedua pengukuran memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siwa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
3. unyuk mandapatkan informasi yang diinginkan tenyang siswa, kedua pengukuran sama-sama nenerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.

Perbedaan kedua penilaian asalah sebagai berikut:
a. penilaian acuan patokan
1. merupakan tipe pengukuran yang berfokus pada penentuan domain tugas belajar dengan tingkat kesulitan sejumlah item sesuai dengan tugas pembelajaran.
2. menekankan penggambaran tugas apa yang telah dipelajari oleh para siswa
3. item kesulitan sesuai dengan tugas pembelajaran, tanpa menhilangkan item atau soal yang memiliki tingkat kesulitan rendah
4. lebih banyak digunakan, khususnya untuk kelas dengan tugas pembelajaran dengan konsep atau penguasaan materi belajar.
b. penilaian acuan norma
1. merupakan tes yang mencakup domain tugas pembelajarqan dengan item pengukuran yang spesifik
2. menekankan perbedaan anta individual siswa yang satu dengan siswa yang lain dalam kelompok atau kelas.
3. item-item yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dan cenderung menghilangkan item yang memiliki tingkat kesulitan rendah.
4. lebih banyak digunakan, khususnya pada kelas yang memiliki kelompok-kelompok dengan pembedaan antara siswa pandai diatas nilai rerata, di bawah rerata dan bodoh





















VALIDITAS

Validitaas adalah kualitas yang menunjukkan hubungan antara suatu pengukuran (diagnosis) dengan arti atau tujuan criteria belajar atau tingkah laku. Beberapa criteria dapat dipilih untuk memperlihatkan keefektifan terhadap peramalan performance yang akan dating. Criteria yang lain untuk menunjukkan status yang muncul, criteria yang lain lagi untuk menimbulkan sifat-sifat yang representative dari luasnya isi atau tingkah laku, dan criteria yang lain lagi untuk melengkapi penyediaan data untuk menunjang atau menolak beberapa teori psikologis.
Karaktristik pertama dan memiliki peranan sangat penting dalam instrument evaluasi, yaitu karakteristik valid (validity). Valid menurut Gronlund (1985) dapat diartikan sebagai ketepatan interpretasi yang dihasilkan dari skor tes atau instrument evaluasi.
Suatu instrument evaluasi dikatakan valid, seperti yang diterangkan oleh Gay (1983) dan Johnson (2002), apabila instrument yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Jadi jika tes tersebut adalah tes pencapaian hasil belajar maka hasil tes tersebut apabila diinterpretasikan secara intensif, hasil yang dicapai memang benar menunjukkan ranah evaluasi pencapaian hasil belajar seorang guru hendak melakukan tes untuk melakukan penilaian apakah para siswa dapat menguasai pengetahuan yang telah diberikan dikelas. Agar memperoleh hasil yang baik, guru tersebut perlu membuat atau mengembangkan tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai., kemudian memanfaatkannya untuk mengukur peserta didik. Dikarenakan guru mengetahui seluk beluk siswa yang diajarkannya, mereka dapat membuat tes yang cocok dengan tuuan pengajaran yang telah ditetapkan.
Validitas suatu instrument evaluasi, tidak lain adalah derajat yang menunjukkan diman suatu tes mengukur apa yang diukur. Validitas suatu instrument evaluasi mempunyai beberapa peran penitng diantaranya sebagai berikut.
1. berhubungan dengan ketepatan interpretasi hasil tes atau instrument evaluasi untuk grup individual dan bukan instrument itu sendiri.
2. validitas diartikan sebagai derajat yang menunjukkan kategori yang bias mencakup kategori rendah, menengah, dan tinggi.
3. prinsip suatu tes valid, tidak universal. Validitas suatu tes yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa ia hanya valid untuk suatu tujuan tertentu saja. Tes valid untuk bidang studi metrology industri belum tentu valid untuk bidang yang lain misalnya mekanika teknik.

Hal ini juga dapat dianalogkan bahwa apabila tes valid untuk suatu grup individu, belum tantu valid untuk grup lainnya. Sebagai contoh tes valid untuk para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), belum tentu valid untuk Sekolah Menengah Pertama.

A. Jenis-Jenis Validitas
Telah dikatakan bahwa validitas suatu alat evaluasi bukanlah merupakan ciri yang absolute atau mutlak. Suatu tes dapat memiliki validitas yang bertingkat-tingkat : tinggi, sedang, rendah, bergatung pada tujuannya. Sehubung dengan itu, ada beberapa jenis validitas, yaitu:

1. content validity (curricular validity)
suatu tes dikatakan mamiliki konten validity jika scope dan isi tes itu sesuai dengan scop dan isi kurikulum yang sudah diajarkan. Isi tes sesuai dengan atau dengan memiliki sample hasil-hasil belajar yang seharusnya dicapai menurut tujuan kurikulum

2. construct validity
untuk menentukan adanya construst validity, suatu tes dikorelasikan dengan suatu konsepsi atau teori. Items dalam tes itu harus sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam konsepsi tadi, yaitu konsepsi tentang objek yang akan dites. Dengan kata lain, hasil-hasil tes itu disesuaikan dengan tujuan atau ciri-ciri tingkah laku (domein) yang hendak diukur.

3. predictive validity
suatu tes dikatakan memiliki predictive validity jika hasil korelasi tes itu dapat meramalkan dengan tepat keberhasilan seseorang pada masa mendatang didalam lapangan tertentu. Tepat tidaknya ramalan tersebut dapat dilihat dari korelasi koefisien antara hasil tes itu dengan hasil alat ukur lain pada masa mendatang.

4. concurrent validity
jika hasil suatu tes mempunyai korelasi yang tinggi dengan hasil suatu alat ukur lain terhadap bidang yang sama pada waktu yang sama pula, maka dikatakan tes itu memiliki concurrent validity ( concurrent = bersamaan waktu).

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VALIDITAS
Banyak factor yang dapat mempengaruhi hasil tes evaluasi tidak valid. Beberapa factor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menurut sumbernya, yaitu factor internal dari tes, factor eksternal tes, dan factor yang berasal dari siswa yang bersangkutan.
1. factor yang berasal dari dalam tes
beberapa yang pada umumnya berasal dari factor internal tes evaluasi diantaranya sebagai berikut.
a. arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi validitas tes.
b. Kata-kata yang digunakan dalam strukur instrument evaluasi terlalu sulit.
c. Item-item tes dikontruksi dengan jelek.
d. Tingkat kesulitan tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima siswa.
e. Waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk kemungkinan terlalu kurang atau terlalu longgar.
f. Jumlah item tes terlalu sedikitsehingga tidak mewakili sample materi pembelajaran.
g. Jawaban masing-masing item evaluasi bias diprediksi siswa.

2. factor yang berasal dari administrasi dan skor. Factor ini dapat mengurangi validasi interpretasi hasil evaluasi, khususnya tes evaluasi yang dibuat oleh guru. Berikut beberapa contoh factor yang sumbernya berasal dari proses administrasi dan skor.
a. waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa dalam memberikan jabatan dalam situasi yang tergesa-gesa
b. adanya kecurangan dalam tes sehingga tidak bias membedakan antara siswa yang belajar dengan yang melakukan kecurangan.
c. Pemberian petunjuk dari pengawas yang tidak dapat dilakukan oleh semua siswa.
d. Siswa tidak dapat mengikuti arahan yang diberikan dalam tes baku.
e. Adanya joki (orang lain bukan siswa) yang masuk dan menjawab item tes yang diberikan

3. factor yang berasal dari jawaban siswa
seringkali terjadi bahwa interpretasi yang terjadi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena dipengaruhi oleh jawaban siswa daripada interpretasi item-item pada tes evaluasi. Sebagai contoh, sebelum tes siswa mwnjadi tegang karena guru mata pelajara dikenal “killer”, galak, dan sebagainya sehingga siswa yang ikut tes banyak yang gagal. Contoh lain, ketika siswa mengikuti tes penampilan keterampilan, ruangan terlalu ramai atau gaduh sehingga para siswa tidak dapat konstentrasi dengan baik. Ini semua dapat mengurangi nilai validitas instrument evaluasi.


CARA MENGHITUNG VALIDITAS

Pada uraian yang baru lalu telah dibicarakan tentang validitas dan keandalan sebagai suatu ciri atau kualitas suatu tes. Dalam uraian berikut kami akan mencoba memberikan contoh bagaimana cara menghitung validitas suatu tes.
1. dengan product moment correlation

Rumusnya :

Dengan rumus ini kita dapat menghitung validitas suatu tes dengan membandingkan atau mencari korelasi antara dua kelompok skor, dihitung berdasarka deviasi setiap skor dan mean.
Misalkan sebuah tes ilmu bumi dicobakan kepada dua kelompok murid yang 14 orang tiap kelompok. Skor hasil tes dari kdua kelompok tersebut seperti berikut:
Kelompok A : 31 36 36 30 38 37 28 37 36 36 38 38 40 34
Kalompok B : 24 34 36 29 36 36 24 31 31 27 36 35 35 32












Untuk dapat menghitung korelasi dengan rumus tersebut diatas kita susun kedua kelompok skor itu kedalam sebuah table, kita cari mean dari tiap kelompok dan deviasi tiap skor dari mean seperti pada table.
Dengan rumus product moment of correlation, hasil perhitungan dari table adalah sebagai berikut:







Penafsiran
r antara 0,00 – 0,20 : hampir tidak ada korelasi
0,20 – 0,40 : korelasi rendah
0,41 – 0,70 : korelasi cukup
0,71 – 0.90 : korelasi tinggi
0,91 – 1,00 : korelasi sangat tinggi
Dengan melihat hasil r = 80 berarti bahwa korelasi antara dua kelompok skor ilmu bumi tersebut cukup tinggi sehingga kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tingkat validitas tes tersebut cukup tinggi pula. Dengan akata lain, tes tersebut memiliki validitas yang tinggi.









KESIMPULAN

1. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
suatu penilaian disebut PAP jika dalam melakukan penilaian itu kita mengacu kepada suatu criteria pencapaian tujuan (instruksional) yang telah dirumuskan sebelumnya. Nilai-nilai yang diperoleh siswa dihubungkan dengan tingkat pencapaian penguasaan (mastery) siswa tentang materi pengajaran sesuai dengan tujuan (instruksional) yang telah ditetapkan.

2. Penilaian Acuan Norma (PAN)
secara singkat dapat dirumuskan bahwa penilaian acuan norma (PAN) adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok. Nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang termasuk didalam kelompok itu.

3. Validitas
Validitaas adalah kualitas yang menunjukkan hubungan antara suatu pengukuran (diagnosis) dengan arti atau tujuan criteria belajar atau tingkah laku. Beberapa criteria dapat dipilih untuk memperlihatkan keefektifan terhadap peramalan performance yang akan dating. Criteria yang lain untuk menunjukkan status yang muncul, criteria yang lain lagi untuk menimbulkan sifat-sifat yang representative dari luasnya isi atau tingkah laku, dan criteria yang lain lagi untuk melengkapi penyediaan data untuk menunjang atau menolak beberapa teori psikologis.





DAFTAR PUSTAKA

M. Ngalim Purwanto D.Rs Mp. : 2002 : Prinsip-Prinsip Dan Yeknik Evaluasi Pengajaran. Rosda Karya, Jakarta

Prof. M.M. Sukardi, Ms. Ph,o : 2008, Evaluasi Pendidikan, Prinsip, Dan Operasionalnya: Bumi Aksara, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar